Kisah Raden Panji Margono, Bangsawan yang Turun Gunung di Perang Lasem dan Keberadaan Patungnya di Kelenteng Gie Yong Bio

Kisah Raden Panji Margono, bangsawan Lasem yang melawan VOC dan dihormati sebagai kongco di Kelenteng Gie Yong Bio. (Foto istimewa)

KabarJawa.com – Raden Panji Margono merupakan bangsawan Lasem, Rembang, Jawa Tengah, yang memilih meninggalkan kesempatan menjadi adipati dan menjalani kehidupan bersama masyarakat.

Namanya kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perlawanan Jawa-Tionghoa terhadap VOC di Lasem pada abad ke-18.

Kisah Panji Margono menarik bukan hanya karena keberaniannya melawan VOC. Ia juga menjadi simbol hubungan antara masyarakat Jawa dan Tionghoa di Lasem.

Bahkan, sosok bangsawan Jawa-Muslim ini kemudian dihormati sebagai kongco dan memiliki patung di Kelenteng Gie Yong Bio, Lasem.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sendiri mencatat nama Raden Panji Margono sebagai bagian dari sejarah lokal Rembang. Pemprov Jateng menyebut sejarah lokal penting dikenalkan kepada generasi muda, termasuk sosok Panji Margono yang tidak banyak dikenal masyarakat luas.

Siapa Raden Panji Margono?

Raden Panji Margono disebut sebagai putra Adipati Lasem Raden Panji Sasongko atau Tejakusuma V. Ia berasal dari lingkungan bangsawan, tetapi tidak memilih meneruskan jabatan politik keluarganya.

Sejumlah sumber sejarah lokal menyebut Panji Margono justru memilih hidup sebagai masyarakat biasa. Ia antara lain dikenal dekat dengan kegiatan pertanian dan perdagangan dengan masyarakat Tionghoa di Lasem.

Pilihan tersebut membuatnya mempunyai hubungan yang cukup dekat dengan masyarakat di luar lingkungan bangsawan. Ketika situasi politik dan sosial Lasem mulai memanas akibat campur tangan VOC, kedekatan itu kemudian menjadi modal penting dalam membangun perlawanan.

Makam Raden Panji Margono hingga kini berada di Desa Dorokandang, Kecamatan Lasem. Pemerintah Kecamatan Lasem juga mencatat makam tersebut sebagai salah satu tujuan ziarah dalam kegiatan sejarah dan budaya di wilayah Lasem.

Perlawanan Terhadap VOC

Perlawanan Panji Margono tidak bisa dilepaskan dari situasi Jawa pada pertengahan abad ke-18. Setelah Geger Pecinan di Batavia pada 1740, banyak masyarakat Tionghoa berpindah ke sejumlah wilayah di Jawa, termasuk Semarang dan Lasem. Ketegangan kemudian berkembang menjadi perlawanan terhadap VOC.

Data dari platform resmi Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat bahwa masyarakat Lasem mengangkat tiga tokoh sebagai pemimpin perlawanan, yakni Raden Panji Margono, Raden Ngabehi Widyaningrat atau Oei Ing Kiat, dan Tan Kee Wie.

Perlawanan itu kemudian dikenal sebagai Perang Kuning, rangkaian konflik masyarakat Jawa dan Tionghoa melawan VOC pada 1741-1742 dan kembali berkobar di Lasem pada 1750.

Di sinilah batas identitas etnis menjadi menarik. Panji Margono yang berasal dari bangsawan Jawa justru bersekutu dengan tokoh-tokoh Tionghoa Lasem.

Bahkan, ia disebut menggunakan nama samaran Tan Pan Ciang untuk menyamarkan identitasnya ketika bergabung dengan pasukan Tionghoa.

Turun Langsung ke Medan Perang

Peran Raden Panji Margono dalam perang bukan sekadar simbol atau dukungan politik.

Kajian Journal of Indonesian History Universitas Negeri Semarang mencatat sebuah episode ketika pasukan Panji Margono mengalami kekalahan. Ia bersama pengawalnya, Galiyo, mengganti pakaian Tionghoa yang dikenakan dan menyamar sebagai rakyat biasa.

Keduanya bahkan membeli dandang tembaga bekas dan menyamar sebagai tukang tembaga agar dapat kembali ke Lasem. Mereka akhirnya berhasil lolos.

Kisah tersebut menunjukkan posisi Panji Margono yang cukup berbeda dari gambaran bangsawan yang berada jauh dari medan perang. Ia terlibat langsung dalam konflik dan harus menggunakan penyamaran untuk menyelamatkan diri.

Setelah perlawanan tersebut berhasil dipukul mundur, VOC pada 1743 menduduki Lasem. Pemerintahan Kadipaten Lasem kemudian diambil alih dan Panji Margono bersama keluarganya berada dalam pengawasan VOC.

Pertempuran 1750 dan Gugurnya Panji Margono

Kekalahan sebelumnya ternyata tidak menghapus perlawanan masyarakat Lasem.

Pada 1750, gerakan perlawanan kembali muncul. Kajian sejarah mencatat bahwa setelah salat Jumat di Masjid Lasem, seruan untuk melawan Belanda disampaikan oleh ulama setempat. Seruan itu kemudian mendapat dukungan masyarakat dan santri.

Oei Ing Kiat kembali menggerakkan masyarakat Tionghoa, sementara Panji Margono juga kembali bergabung dalam perlawanan.

Pemerintah Kabupaten Rembang dalam dokumentasi pentas sejarah Perang Kuning menyebut peristiwa tersebut sebagai bagian dari sejarah persatuan masyarakat Jawa, Tionghoa dan kaum santri di Lasem.

Pertempuran kemudian berlangsung sengit. Kajian Universitas Negeri Semarang mencatat Panji Margono akhirnya gugur setelah mengalami luka akibat sabetan pedang pada bagian perut.

Ia diperkirakan gugur pada 1750 dan kemudian dimakamkan di Dorokandang, Lasem.

Mengapa bangsawan seperti Panji Margono rela turun gunung?

Jika dilihat dari latar belakangnya, keputusan Panji Margono untuk meninggalkan lingkungan bangsawan dan ikut berperang memang menarik.

Namun, konteksnya tidak sekadar soal keberanian seorang bangsawan menghadapi tentara Belanda.

VOC pada masa itu semakin kuat mencampuri urusan politik dan pemerintahan lokal. Pada saat yang sama, konflik dengan masyarakat Tionghoa berkembang menjadi persoalan yang lebih luas di sejumlah wilayah Jawa.

Karena itu, perlawanan Panji Margono dapat dilihat sebagai bagian dari penolakan terhadap semakin kuatnya kekuasaan VOC di Lasem dan sekitarnya.

Yang lebih penting, ia tidak bergerak sendirian. Perlawanan Lasem mempertemukan berbagai kelompok yang memiliki kepentingan sama dalam menghadapi kekuasaan kolonial.

Kajian Kementerian Agama mengenai sejarah Lasem juga mencatat keterlibatan Raden Panji Margono, ulama, serta tokoh Tionghoa dalam gerakan perlawanan terhadap VOC.

Patung Raden Panji Margono di Gie Yong Bio

Di Kelenteng Gie Yong Bio, Lasem, terdapat patung Raden Panji Margono. Padahal, ia merupakan tokoh Jawa-Muslim, bukan tokoh dari komunitas Tionghoa.

Penelitian yang diterbitkan Cogent Arts & Humanities menyebut Panji Margono ditempatkan sebagai kongco, atau leluhur pelindung, di Gie Yong Bio. Para peneliti melihat keberadaan patung tersebut sebagai contoh cultural hybridization atau hibridisasi budaya antara masyarakat Jawa dan Tionghoa di Lasem. Alasannya berkaitan erat dengan sejarah Perang Kuning.

Panji Margono merupakan salah satu tokoh yang bekerja sama dengan Oei Ing Kiat dan Tan Kwee Wie. Ketiganya kemudian dikenang sebagai bagian dari sejarah perlawanan masyarakat Lasem terhadap VOC.

Dengan kata lain, komunitas Tionghoa tidak menghormati Panji Margono karena ia dianggap sebagai orang Tionghoa. Ia dihormati karena pernah menjadi bagian dari perjuangan bersama masyarakat Tionghoa Lasem.

Pemerintah Kabupaten Rembang juga menggunakan kisah Panji Margono, Oei Ing Kiat dan Tan Kee Wie dalam pementasan sejarah Perang Kuning sebagai gambaran persatuan masyarakat Lasem yang berbeda etnis dan latar belakang.

Penelitian ISI Yogyakarta dan UGM yang diterbitkan pada 2023 menjelaskan bahwa patung tersebut dibuat pada 2004.

Pada tahun itu, para sesepuh komunitas Tionghoa Lasem yang sebagian merupakan pengurus kelenteng berdiskusi mengenai tokoh-tokoh perjuangan Lasem pada era VOC. Mereka kemudian mengusulkan Raden Panji Margono untuk ditempatkan sebagai kongco.

Patung tersebut dibuat oleh seniman lokal bernama Rustamaji atas permintaan komunitas Tionghoa Lasem.

Patung itu juga menarik secara visual. Kajian akademik tersebut mencatat sosok Panji Margono digambarkan mengenakan pakaian bangsawan Jawa, lengkap dengan beskap dan blangkon bergaya Surakarta. Altar patungnya juga menggunakan sejumlah unsur arsitektur Jawa seperti bentuk joglo.

Kelenteng Gie Yong Bio dan Perang Kuning

Kelenteng Gie Yong Bio sendiri memiliki hubungan erat dengan memori sejarah Perang Kuning.

Sejumlah sumber sejarah menyebut kelenteng tersebut didirikan pada 1780 untuk mengenang tiga tokoh perlawanan Lasem, yakni Raden Panji Margono, Oei Ing Kiat dan Tan Kee Wie.

Penelitian akademik tentang Gie Yong Bio menunjukkan bahwa penghormatan terhadap Panji Margono kemudian berkembang menjadi praktik budaya. Patungnya tidak hanya ditempatkan di altar, tetapi juga ikut dalam prosesi komunitas di Lasem.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Lasem tidak mudah dipisahkan berdasarkan garis etnis.

Jawa dan Tionghoa pernah bertemu dalam perdagangan, kehidupan sosial, dan akhirnya dalam perjuangan menghadapi VOC. Memori mengenai kerja sama tersebut kemudian diwariskan melalui ruang budaya dan simbol, salah satunya patung Panji Margono di Gie Yong Bio.***

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch

More From Author

Rest Area yang Cocok untuk Gathering dan Meeting