KabarJawa.com – Bahasa Jawa dikenal memiliki perbendaharaan kata yang sangat detail, termasuk dalam hal penyebutan waktu.
Tak hanya sekadar “pagi” atau “siang”, orang Jawa memiliki istilah khusus untuk menyebut durasi atau lamanya waktu hingga penanda jam alamiah.
Istilah-istilah ini mungkin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari atau dalam karya sastra. Namun, Anda mungkin belum tahu apa artinya.
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah ragam istilah ukuran waktu dalam Bahasa Jawa.
Istilah Durasi Waktu Singkat
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan rentang waktu yang sangat sebentar atau kejadian yang berlangsung cepat. Berikut beberapa diantaranya.
- Sapandurat: Sekejap mata, sebentar saja.
- Sak Plintengan: Sepersekian detik, sesaat, atau sangat sebentar (ibarat peluru ketapel/plinteng yang melesat).
- Sakkelip: Sekejap mata (seperti satu kedipan mata).
- Sanalika: Seketika, saat itu juga (langsung terjadi).
- Sak Untara (Sak Untoro): Sementara waktu, sabar sejenak, atau jeda sebentar.
- Sak Leran: Satu kali istirahat (jeda sejenak untuk melepas lelah).
Istilah Durasi Kalender Hari dan Tahun
Selain hitungan masehi, Bahasa Jawa memiliki hitungan unik seperti “Pasaran” dan “Windu”. Berikut nama-namanya.
- Saminggu: 7 hari.
- Sasapar: 5 hari (Satu putaran hari pasaran Jawa: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
- Salapan: 35 hari (Pertemuan antara hari masehi dan pasaran, 7 x 5 hari).
- Sawulan: 1 bulan (4 minggu).
- Satahun: 1 tahun (52 minggu).
- Sawindu: 8 tahun.
Penunjuk Waktu Umum (Kosakata Dasar)
Berikut adalah kosakata dasar untuk keterangan waktu:
- Pagi: Esuk / Enjang.
- Siang: Awan / Rina.
- Sore: Sonten.
- Malam: Bengi / Dalu.
- Kemarin: Wingi.
- Besok: Sesuk.
- Nembe: Baru saja.
- Suwe: Lama.
- Saksuwene: Selama.
Arane Wektu
Masyarakat Jawa tradisional menandai jam berdasarkan pergerakan matahari dan aktivitas alam/hewan. Berikut urutannya dari pagi buta hingga malam larut:
Waktu Pagi (Dini Hari – Terbit Matahari)
- 03.00 – Jago Kluruk Sepisan: Ayam berkokok pertama kali.
- 04.00 – Subuh / Jago Kluruk Pindo: Ayam berkokok kedua.
- 05.00 – Jago Kluruk Telu: Ayam berkokok ketiga.
- 05.30 – Saput Lemah: Mulai terlihat tanah (remang-remang pagi).
- 06.00 – Byar: Matahari terbit (terang tanah).
Waktu Siang (Matahari Naik)
- 09.00 – Gumatel: Matahari mulai terasa panas menyengat (gatel).
- 10.00 – Pecat Sawed: Waktunya petani melepas bajak sawah (istirahat).
- 11.30 – Tengange: Menjelang tengah hari.
- 12.00 – Bedug Luhur / Wisan Gawe: Waktunya istirahat kerja (tengah hari).
- 12.30 – Lingsir Kulon: Matahari mulai bergeser ke arah barat.
Waktu Sore (Matahari Turun)
- 15.30 – Ngasar: Waktu salat Asar.
- 17.00 – Tunggang Gunung: Matahari tampak berada di atas punggung gunung (akan terbenam).
- 17.30 – Tibra Layu: Matahari mulai redup/layu.
Waktu Malam (Gelap)
- 18.00 – Magrib / Surup: Matahari terbenam.
- 18.30 – Bakda Magrib: Selepas waktu Magrib.
- 19.00 – Ngisak: Waktu salat Isya.
- 20.00 – Bakda Ngisak: Selepas waktu Isya.
- 22.00 – Sirep Bocah: Waktunya anak-anak tidur (suasana mulai sepi).
- 23.00 – Sirep Wong: Waktunya orang dewasa tidur.
- 24.00 – Bedhug Bengi: Tengah malam.
- 01.00 – Lingsir Wengi: Lewat tengah malam (menjelang dini hari).
- 02.00 – Titiyoni: Waktu hening dini hari.
Nah, itulah tadi beberapa istilah ukuran waktu dalam Bahasa Jawa yang sangat kaya makna. Semoga bermanfaat.***
The post Istilah Ukuran Waktu dalam Bahasa Jawa: Sapandurat, Sak Plintengan, Sak Untoro, dll appeared first on Kabar Jawa.
Agen234
Agen234
Agen234
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel
News
Breaking News
Berita