KabarJawa.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, suasana di berbagai pemakaman umum di tanah Jawa, termasuk Jawa Tengah, Yogyakarta dan sekitarnya, mulai terasa berbeda.
Masyarakat berbondong-bondong melaksanakan tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Nyadran. Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah momen emosional untuk menyambung tali kasih dengan leluhur yang telah tiada.
Nyadran sejatinya adalah istilah lokal untuk ziarah kubur yang dilakukan secara kolektif pada bulan Ruwah (Syaban), atau sekitar satu minggu sebelum puasa dimulai.
Kegiatan ini mencakup pembersihan makam, kirab budaya, hingga kenduri bersama. Inti dari tradisi ini adalah mendoakan ampunan bagi leluhur serta menjadi pengingat bagi kita yang masih hidup bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan datang.
Bagi Anda yang hendak melaksanakan Nyadran tahun ini, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah panduan doa dan tahlil yang dianjurkan.
Salam Saat Memasuki Area Pemakaman
Adab pertama saat menginjakkan kaki di area pemakaman adalah mengucapkan salam. Doa ini adalah bentuk sapaan hormat kita kepada para penghuni alam barzah, sekaligus doa keselamatan bagi mereka dan pengingat bagi diri sendiri. Berikut adalah bacaannya:
السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ
Latin: Assalamu’alaikum daara qaumin mukminin wa ataakum ma tu‘aduna ghadan muajjalun, wa inna insya Allahu bikum lahiqun.
Artinya: “Semoga keselamatan bagi kamu sekalian wahai negeri kaum yang beriman, dan akan datang apa yang dijanjikan kepada kamu sekalian dengan segera. Dan sesungguhnya kami, dengan izin Allah akan menyusul kamu sekalian.” (HR. Muslim).
Untaian Tahlil Nyadran
Setelah membersihkan makam dan duduk dengan tenang, inti dari ziarah adalah mengirimkan doa melalui pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Rangkaian ini biasanya dimulai dengan bacaan tahlil sebagai berikut:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، الۤــــــمّۤۚ، ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ، الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ، وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ، اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
وَإِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَّاحِدٌ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيمُ
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Latin: “Bismillâhir-rahmânir-rahîm, Alif Lâm Mîm, dzâlikal-kitâbu lâ raiba fîhi, hudal-lilmuttaqîn, al-ladzîna yu’minûna bil-ghaibi wa yuqîmûnash-shalâta wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn, wal-ladzîna yu’minûna bimâ unzila ilaika wa mâ unzila min qablika, wa bil-âkhirati hum yûqinûn, ulâ’ika ‘alâ hudam mir rabbihim wa ulâ’ika humul-mufliḫûn. Wa ilâhukum ilâhuw wâḫidul lâ ilâha illa Huwar-raḫmânur-raḫîm.
Allahu lâ ilâha illa huwal-ḫayyul-qayyûm. Lâ ta’khudzuhû sinatuw wa lâ naûm. Lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl.
Man dzal ladzî yasyfa’u ‘indahû illâ bi idznih. Ya’lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum. Wa lâ yuḫithûna bi syai’in min ‘ilmihî illâ bimâ syâ’a wasi’a kursiyyuhus-samawâti wal-ardl. Wa lâ ya’ûduhu ḫifdhuhumâ wahuwal-‘aliyyul-adhîm.”
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Alif lam mim. Demikian itu kitab ini tidak ada keraguan padanya. Sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka.
Dan mereka yang beriman kepada kitab Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad saw.) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari tuhannya. Merekalah orang orang yang beruntung.
Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang maha esa. Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Allah, tiada yang layak disembah kecuali Dia yang hidup kekal lagi berdiri sendiri. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat menjaga keduanya. Dia maha tinggi lagi maha agung.”
Doa Khusus Pengantar Pahala
Sebagai penutup dari rangkaian ziarah, bacalah doa khusus yang diniatkan untuk menyampaikan pahala bacaan tadi kepada almarhum atau almarhumah. Doa ini menjadi “surat pengantar” agar keberkahan ayat suci sampai kepada ahli kubur yang kita tuju.
اللهم اوصل ثواب ما قُأناه الى فلان او اليهم
Latin: Allahumma aushil tsawaba maa qara’naahu ilaa fulan (sebut nama almarhum/almarhumah) au ilaihim.
Artinya: “Ya Allah, sampaikanlah pahala apa yang telah kami baca kepada fulan [sebut nama yang diziarahi] atau kepada mereka.”
Ada Doa Khusus
Jadi kesimpulannya, doa Nyadran merupakan rangkaian ibadah ziarah kubur yang diawali dengan salam kepada ahli kubur.
Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil, dan ditutup dengan permohonan agar pahala bacaan tersebut sampai kepada leluhur, sebagai wujud bakti dan persiapan spiritual menyambut bulan suci Ramadhan.***
Agen234
Agen234
Agen234
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel
News
Breaking News
Berita