KabarJawa.com — Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran pada Senin, 2 Februari 2026 pagi.
Awan panas tercatat meluncur sejauh 1,5 kilometer ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong.
Kejadian ini menegaskan suplai magma di tubuh Merapi masih berlangsung dan berpotensi memicu peristiwa serupa.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan awan panas guguran terjadi pada pukul 04.40 WIB.
Rekaman seismik menunjukkan amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi 133 detik, yang mengindikasikan energi guguran cukup signifikan.
BPPTKG: Potensi Awan Panas Guguran Masih Ada
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa kejadian tersebut berkaitan dengan ketidakstabilan kubah lava di puncak Merapi.
Tekanan magma dari dalam gunung masih mendorong material lava ke permukaan sehingga memicu guguran lava dan awan panas.
“Data pemantauan kami menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu awan panas guguran, khususnya pada sektor selatan hingga barat daya,” ujar Agus Budi Santosa.
Aktivitas Vulkanik Sejak Dini Hari
Berdasarkan laporan resmi MAGMA-VAR Badan Geologi, aktivitas Merapi terpantau intens pada periode pengamatan 1 Februari 2026 pukul 00.00–24.00 WIB.
Dalam periode tersebut, tercatat satu kali awan panas guguran dengan durasi hampir 151 detik serta 92 kali gempa guguran dengan amplitudo maksimum 29 milimeter.
Selain itu, teramati 61 kejadian gempa hybrid atau fase banyak yang menandakan pergerakan magma masih aktif.
Petugas juga mencatat lima kali gempa tektonik jauh yang tidak berkaitan langsung dengan aktivitas erupsi.
Faktor Cuaca dan Bahaya Sekunder
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di kawasan Merapi dilaporkan mendung hingga hujan dengan curah hujan mencapai 18 milimeter per hari.
Kondisi ini meningkatkan potensi bahaya lahar hujan, terutama di sepanjang alur sungai yang berhulu di Merapi.
Pengamatan visual juga terhambat karena puncak gunung tertutup kabut dengan intensitas 0 hingga III.
Guguran Lava Pagi Hari
Aktivitas berlanjut pada periode pengamatan 2 Februari 2026 pukul 00.00–06.00 WIB. BPPTKG mencatat 25 kali gempa guguran dan 18 kali gempa hybrid.
Selain itu, teramati lima kali guguran lava yang meluncur ke arah barat daya melalui Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2 kilometer.
Status Siaga Level III Tetap Ditetapkan
BPPTKG menegaskan status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga).
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
Masyarakat juga diminta mengantisipasi potensi lahar hujan dan gangguan abu vulkanik, terutama saat hujan turun di sekitar Merapi.
BPPTKG mengimbau warga untuk tetap tenang, tidak terpengaruh informasi yang tidak terverifikasi, serta mengikuti perkembangan resmi dari BPPTKG dan Badan Geologi.
Otoritas kebencanaan menyatakan akan meninjau kembali tingkat aktivitas Merapi apabila terjadi perubahan signifikan. (Eln)
Agen234
Agen234
Agen234
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel
News
Breaking News
Berita