Relevansi Ajaran ‘Digdoyo Tanpo Aji’ di Era Modern


Ilustrasi arti Digdoyo Tanpo Aji dan relevansinya di era modern /Unsplash

KabarJawa.com – Tanah Jawa tidak hanya subur oleh kekayaan alamnya, tetapi juga subur oleh nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.

Jika kita menyelami samudra falsafah Jawa, kita akan menemukan banyak sekali mutiara kebijaksanaan yang tak lekang oleh waktu.

Salah satu ungkapan yang sangat populer dan sering terdengar adalah “Digdoyo Tanpo Aji”. Mungkin sekilas terdengar mistis, namun ajaran ini justru memiliki makna yang sangat logis dan relevan untuk diterapkan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern saat ini. Lantas, apa sebenarnya rahasia di balik pepatah kuno ini?

Mengupas Makna “Digdoyo Tanpo Aji”

Mari kita bedah maknanya terlebih dahulu. Berdasarkan laman resmi UIN Malang, diketahui bahwa secara harfiah Digdoyo Tanpo Aji memiliki arti “sakti tanpa aji-ajian” atau “kuat tanpa mantra”.

Seperti kita ketahui, orang sakti sering kali dikaitkan dengan mereka yang memiliki jimat, pusaka, atau rapalan mantra tertentu.

Namun, falsafah ini justru mematahkan anggapan tersebut. Kekuatan sejati digambarkan sebagai kekuatan yang murni berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, tanpa bergantung pada bantuan eksternal apa pun, baik itu benda keramat maupun kekuatan magis.

Jadi sederhananya, pepatah ini menekankan pada kekuatan spiritual, kemandirian, dan integritas diri yang kokoh. Seseorang yang “Digdoyo Tanpo Aji” adalah mereka yang berani berdiri di atas kaki sendiri dengan keyakinan penuh pada potensi yang dimilikinya.

Relevansi di Tengah Gempuran Zaman Modern

Di era modern yang serba instan ini, definisi “sakti” tentu telah bergeser. Kita tidak lagi berbicara tentang kekebalan fisik terhadap senjata tajam.

Di dunia kontemporer, “kesaktian” dimaknai sebagai keunggulan karakter, integritas moral, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi.

Sayangnya, banyak orang zaman sekarang yang terjebak mengejar “aji” atau kekuatan luar yang bersifat semu. “Aji” di masa kini bisa berupa kekayaan materi, jabatan tinggi, atau popularitas instan di media sosial. Orang berlomba-lomba mencari pengakuan dari luar untuk merasa kuat.

Di sinilah ajaran Digdoyo Tanpo Aji hadir sebagai pengingat. Falsafah ini mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati berasal dari dalam, yaitu:

  • Integritas: Konsistensi antara ucapan dan tindakan.
  • Kejujuran: Nilai mata uang yang paling berharga di mana pun kita berada.
  • Disiplin dan Etika Kerja: Fondasi utama kesuksesan yang langgeng.

Membangun Generasi yang Berkarakter

Penerapan ajaran ini sangat krusial untuk menciptakan generasi unggul atau Manusia Paripurna. Kita sering melihat orang yang memiliki ilmu tinggi dan kecerdasan luar biasa, namun tersandung masalah hukum atau etika karena minimnya akhlak.

Falsafah ini menegaskan bahwa kepintaran saja tidak cukup. Keseimbangan adalah kuncinya. Generasi emas harus dibekali dengan keilmuan yang mumpuni, namun perilakunya tetap harus dibimbing ke arah yang luhur.

Tanpa karakter yang kuat, kecerdasan seseorang sering kali tidak membawa manfaat, atau bahkan bisa merugikan orang lain.

Ciri Manusia Paripurna Masa Kini

Lalu, bagaimana wujud nyata penerapan Digdoyo Tanpo Aji dalam kehidupan sehari-hari? Berikut adalah penjabarannya.

Pemimpin yang Melayani, Bukan Menguasai

Manusia paripurna modern tidak mendominasi orang lain dengan kekuasaan atau jabatan. Mereka memimpin dengan pengaruh positif, kolaborasi, dan kecerdasan emosional.

Mereka diharapkan hadir sebagai sosok suportif yang mampu menyelesaikan konflik dan membangun relasi yang sehat. Ini mengajarkan kerendahan hati dan empati yang mendalam.

Reputasi Jangka Panjang

Kemudian, di tempat kerja, menerapkan nilai ini berarti membangun kepercayaan yang autentik. Prestasi yang diraih melalui proses jujur akan jauh lebih langgeng daripada keuntungan materi sesaat yang didapat dengan cara curang.

Kemandirian Tanpa “Jimat”

Dan yang paling penting yaitu menolak ketergantungan pada bantuan instan atau jalan pintas. Pepatah ini mendorong kita untuk percaya pada proses, kerja keras, dan tanggung jawab pribadi. Sukses yang diraih dengan keringat sendiri akan melahirkan mental baja yang tidak mudah goyah.

Jadi Panduan Hidup

Jadi kesimpulannya, dalam hal ini, menuju Manusia Paripurna di era modern berarti mentransformasi ajaran Digdoyo Tanpo Aji menjadi panduan hidup.

Fokuslah membangun kekuatan internal, menjaga integritas, dan memelihara ketenangan batin. Dengan demikian, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi tangguh yang tidak hanya cerdas secara intelektualnya, tetapi juga “sakti” secara karakter.***

Agen234

Agen234

Agen234

Berita Terkini

Artikel Terbaru

Berita Terbaru

Penerbangan

Berita Politik

Berita Politik

Software

Software Download

Download Aplikasi

Berita Terkini

News

Jasa PBN

Jasa Artikel

News

Breaking News

Berita

More From Author

Cara Install Gopeed Web Downloader di NAT VPS