KabarJawa.com– Dugaan perundungan yang menimpa seorang alumni SMA Negeri 2 Bantul atau dengan sebutan SMADABA terus memantik gelombang kesaksian dari para alumni.
Unggahan pemilik akun Threads @dinisandra_ tidak hanya membuka ruang diskusi, tetapi juga memunculkan cerita-cerita lama yang selama bertahun-tahun tersimpan rapat di benak para korban.
Satu demi satu alumni mulai memberanikan diri berbicara. Mereka mengungkap pengalaman pahit yang mereka alami saat masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Sebagian mengaku menjadi korban pengucilan, sebagian lainnya mengaku mengalami tekanan mental yang berdampak hingga bertahun-tahun setelah lulus sekolah.
Dugaan Perundungan di SMA 2 Bantul
Melalui unggahannya, Dinisandra mengajak para korban lain untuk bersuara dan mengungkap pengalaman yang pernah mereka alami.
“Terkait kasus adik kita alumni tahun 2025 SMA 2 Bantul yang terkena perundungan oleh pihak para pengajarnya, aku minta untuk korban lain speak up juga. Karena sudah ada dua korban yang hubungi aku tentang buruknya para pengajar di sana,” tulisnya.
Ajakan itu ternyata mendapat respons luas. Kolom komentar dan pesan pribadi mulai penuh dengan pengakuan dari sejumlah alumni lintas angkatan yang mengaku pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan selama bersekolah di SMADABA.
Salah satu komentar yang menyita perhatian datang dari alumni angkatan 2012 bernama Dicha Ahendrawati. Ia mengaku mengalami pengucilan selama duduk di kelas IPS 1.
Menurutnya, hampir seluruh teman sekelas menjauhinya. Hanya beberapa orang yang masih bersedia berteman dan berinteraksi dengannya. Pengalaman itu ternyata meninggalkan luka mendalam yang belum sepenuhnya sembuh.
“Aku SMADABA alumni 2012 kelas IPS 1. Aku dikucilkan satu kelas dan hanya orang-orang tertentu yang masih mau berteman. Rasa sakit hatiku masih melekat sampai saat ini,” tulisnya.
Dicha mengaku sebenarnya telah berusaha berdamai dengan masa lalunya. Namun, kisah dugaan perundungan yang menimpa adik angkatannya membuat seluruh ingatan pahit itu kembali muncul ke permukaan.
Ia mengaku menangis saat membaca cerita yang beredar di media sosial karena merasa mengalami hal yang sama belasan tahun lalu.
“Ya ampun, aku nangis bacanya. Yang kalian alami, aku alami dulu 14 tahun lalu. Itu membuka luka lama lagi yang mana luka itu sudah aku kubur dalam-dalam,” ungkapnya.
Bagi sebagian orang, masa sekolah menjadi kenangan indah sepanjang hidup. Namun bagi Dicha, masa-masa di sekolah justru menyisakan trauma yang terus membayang hingga bertahun-tahun setelah kelulusan.
Guru BK Membuat Siswa Trauma
Kesaksian lain datang dari seorang warganet yang mengaku pernah memiliki murid pindahan dari SMADABA. Ia menceritakan bahwa murid tersebut sempat mengalami tekanan mental yang cukup berat hingga tidak ingin masuk sekolah.
Bahkan, orang tua siswa itu mengira anaknya berangkat mengikuti pelajaran seperti biasa. Kenyataannya, sang siswa hanya mengendarai sepeda motor berkeliling tanpa tujuan karena tidak ingin datang ke sekolah.
“Aku punya murid yang dulu pindahan dari SMADABA. Orang tuanya mengira anaknya berangkat sekolah. Padahal dia hanya naik motor muter-muter di jalan karena tidak mau ketemu guru BK,” tulisnya.
Ia mengaku tidak mengetahui secara detail persoalan yang terjadi. Namun, berdasarkan cerita yang diterimanya, siswa tersebut mengalami stres sejak kelas XI akibat persoalan yang berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler tonti.
Masalah siswa itu terus menumpuk. Saat berusaha mengajukan perpindahan sekolah, proses tersebut sempat terhambat.
Setelah akhirnya berhasil pindah sekolah, kondisi siswa tersebut perlahan membaik. Ia mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, berprestasi, dan akhirnya diterima di Universitas Gadjah Mada.
“Anaknya santun, pintar, dan mudah beradaptasi dengan teman baru. Alhamdulillah setelah lulus diterima di UGM,” tulisnya.
Cerita itu semakin memperkuat dugaan adanya persoalan serius sebagian siswa selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
Tuduhan Menggunakan Narkoba hingga Permintaan Tes Keperawanan
Kesaksian yang paling mengundang perhatian datang dari seorang alumni yang menggunakan akun bernama msowl10. Ia mengaku mengalami perlakuan yang sangat menyakitkan dan tidak akan pernah bisa melupakannya sepanjang hidup.
Menurut pengakuannya, pihak sekolah pernah menuduhnya menggunakan narkoba tanpa bukti yang jelas. Tidak hanya itu, ia juga mengaku diminta menjalani tes darah untuk membuktikan bahwa dirinya tidak mengonsumsi narkoba.
Namun, persoalan tidak berhenti di situ. Ia mengungkap bahwa ia juga terpaksa menjalani tes kehamilan dan tes keperawanan.
“Aku dituduh memakai narkoba. Ditantang tes darah untuk cek narkoba dan tes keperawanan. Fitnah kejam di zaman itu,” tulisnya.
Ia menyebut puncak tekanan terjadi ketika dirinya diminta menjalani tes kehamilan dan tes keperawanan di sebuah rumah sakit di Bantul. Saat itu, kedua orang tuanya datang mendampingi proses pemeriksaan.
Menurut pengakuannya, pihak rumah sakit menjelaskan dapat melakukan pemeriksaan kehamilan. Namun pemeriksaan keperawanan merupakan ranah privasi yang tidak dapat berjalan sembarangan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan ia tidak hamil. Meski demikian, ia mengaku tidak pernah menerima permintaan maaf dari pihak sekolah. Sebaliknya, ia merasa stigma negatif tetap melekat padanya.
“Aku tidak hamil, tapi pihak sekolah tidak mau minta maaf. Aku tetap dipandang hina,” tulisnya.
Ia bahkan mengaku masih menerima perlakuan yang menyakitkan ketika berpapasan dengan guru di kantin sekolah. Pengalaman itu meninggalkan luka psikologis yang mendalam.
Setelah lulus, ia memilih memutus hubungan dengan hampir seluruh hal yang berkaitan dengan sekolahnya. Ia keluar dari grup kelas, grup angkatan, membatasi hubungan dengan teman-teman lama, bahkan menghindari segala bentuk interaksi yang mengingatkannya pada masa sekolah.
“Aku menganggap semuanya selesai. Tapi rasa sakitnya masih terasa. Dendamnya masih ada. Aku masih sering terpicu. Aku jadi introvert dan membatasi diri dari lingkungan apa pun,” ungkapnya.
Gelombang Pengakuan Terus Bertambah
Di tengah ramainya perbincangan publik, Dinisandra mengungkap bahwa jumlah korban yang menghubunginya terus bertambah.
Menurutnya, para korban berasal dari angkatan yang berbeda-beda. Mereka tidak hanya berasal dari satu periode tertentu, tetapi tersebar dalam rentang tahun yang cukup panjang.
Hingga saat ini, ia mengaku telah menerima laporan dari beberapa alumni. Korban yang telah menghubunginya terdiri atas seorang perempuan alumni 2010, seorang perempuan alumni 2012, dua laki-laki alumni 2025, seorang perempuan alumni 2021, seorang perempuan alumni 2020, serta satu perempuan lain yang baru menghubunginya melalui pesan pribadi.
Perundungan dan tekanan psikologis tidak selalu berakhir ketika siswa meninggalkan bangku sekolah. Bagi sebagian korban, luka itu justru terus hidup dan mengikuti perjalanan mereka hingga bertahun-tahun kemudian.
Sebagian korban mengaku masih sering mengalami trauma ketika mengingat masa sekolah. Sebagian lainnya masih menyimpan kemarahan, kekecewaan, bahkan rasa takut yang belum sepenuhnya hilang.
Kini, setelah unggahan itu viral dan menyebar luas di media sosial, para alumni yang selama ini memilih diam mulai membuka suara. Mereka berharap pengalaman yang pernah mereka alami tidak lagi menimpa generasi berikutnya.
“Kebetulan siang ini nanti aku sama korban utama mau ke kantor DP3A Bantul,” ujarnya. (ef linangkung)
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.